Aksara & Digital: Menyulam Literasi, Menjaga Peradaban

Teras Ciliwung, Jl. Jembatan I, Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur
8 September 2025

Gallery

Twibbon 2
Twibbon 1
UNESCO ILD 2025
Twibbon 2
Twibbon 1
UNESCO ILD 2025

Sejak 1967, dunia memperingati International Literacy Day setiap 8 September sebagai pengingat bahwa aksara adalah kunci membuka dunia. Di Indonesia, perayaan ini sering disebut Hari Aksara Internasional atau Hari Literasi Internasional. Dua istilah, satu makna: merayakan kemampuan membaca-menulis sebagai jalan merawat kemanusiaan. Tahun ini, UNESCO mengusung tema Promoting Literacy in the Digital Era, sementara Indonesia menekankan Kesalehan Literasi Digital: Membangun Peradaban. Keduanya menegaskan bahwa literasi tak lagi sekadar keterampilan teknis, melainkan fondasi moral dan sosial dalam menghadapi era digital.

Enam literasi dasar: membaca, numerasi, sains, finansial, digital, dan budaya-kewargaan kini berjalan beriringan dengan kecakapan abad ke-21: berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. AI dan teknologi digital bisa menjadi sahabat jika digunakan bijak: membantu memilah informasi, memperkuat jejaring, hingga mendukung capaian SDGs, dari pendidikan berkualitas hingga aksi iklim. Literasi yang “saleh” bukan hanya soal cerdas menggunakan teknologi, tapi juga mampu menjaga nilai, etika, dan keberlanjutan.

Pelangi Eka Nusa menghadirkan praktik nyata lewat Teras Ciliwung, ruang belajar di tepian sungai yang jadi panggung literasi dan kebencanaan. Anak-anak membaca buku, menulis puisi, memetakan risiko banjir, hingga praktik kesiapsiagaan gempa. Warga saling berbagi cerita, berlatih mitigasi bencana, dan belajar menjaga sungai. Dari tepian Ciliwung, lahir semangat bahwa literasi adalah perbuatan: menghubungkan aksara dengan aksi, merawat alam, serta menumbuhkan generasi yang siap menghadapi dunia digital dengan hati dan nurani.