Di Bulan Bahasa dan Sastra 2025 yang berpadu dengan semangat Sumpah Pemuda, kata dan sastra kembali menjadi jembatan bagi generasi muda untuk bersuara dan bergerak. Pelangi Eka Nusa menyalakan makna “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa” melalui berbagai kegiatan literasi yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan daya lenting. Dari tepi Kali Ciliwung hingga ruang-ruang belajar, cerita menjadi alat pemulihan dan pengikat kebersamaan.
Semangat kebangsaan itu hidup dalam festival, pelatihan, dan kegiatan komunitas mulai dari membaca nyaring bersama anak-anak, pelatihan literasi kebencanaan, hingga bincang santai dalam Festival Literasi Pelajar bersama GliterJak. Di sana, para pelajar berbagi kisah, membahas makna bahasa dan keberanian, serta merajut gagasan untuk Indonesia yang tangguh. Setiap percakapan menjadi benih perubahan; setiap tawa menjadi tanda bahwa literasi tak pernah kehilangan daya hidupnya.
Bulan Bahasa dan Sastra 2025 bukan hanya perayaan aksara, tetapi perayaan aksi dan kolaborasi. Pelangi Eka Nusa percaya bahwa literasi dan kesiapsiagaan adalah dua sisi dari semangat yang sama yaitu membangun bangsa yang kuat melalui kata, karya, dan empati. Dari buku yang dibacakan di tepi sungai hingga percakapan hangat di festival pelajar, semuanya berawal dari satu janji: menjaga Indonesia dengan ilmu, hati, dan cerita yang tak pernah padam.
Bulan Bahasa dan Sastra 2025 bukan hanya perayaan aksara, tetapi perayaan aksi. Pelangi Eka Nusa percaya bahwa literasi dan kesiapsiagaan adalah dua sisi dari semangat yang sama yaitu membangun bangsa yang tangguh melalui kata, karya, dan empati. Dari buku yang dibacakan di kelas hingga pesan evakuasi di tengah bencana, semuanya berawal dari satu janji: menjaga Indonesia dengan ilmu, hati, dan cerita yang tak pernah padam.



